KESALAHAN POLA ASUH ANAK YANG TERKANDUNG DIDALAM NASKAH DRAMA “SEKSA” KARYA DHIPA GALUH PURBA


Anak adalah anugerah terindah yang Tuhan titipkan kepada semua orang tua di muka bumi ini. Membesarkan anak menjadi pribadi yang berbudi luhur dan berakhlak mulia adalah suatu tantangan bagi setiap orang tua. Jika tantangan tersebut berhasil dilalui, maka berhasilah orang tua tersebut.
Seperti yang kita ketahui, membesarkan anak untuk menjadi pribadi yang baik tidak semudah membalikkan telapak tangan. Banyak tahapan yang harus orang tua lalui agar anak tersebut tumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang baik.
Setiap anak dilahirkan sama polos. Namun proses tumbuh kembang anak menjadi kompleks karena dipengaruhi berbagai faktor seperti faktor genetik, nutrisi, lingkungan, dan pola asuh. Dalam membentuk karakter anak, pola asuh memiliki peranan besar. Orang tua bertanggung jawab sepenuhnya memberikan pola asuh yang baik kepada anak dan bertanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan anaknya, mengajari, mengarahkan, dan mendidik hingga dewasa nanti.
Tanggung jawab orang tua meliputi tanggung jawab keimanan, materi, fisik, moral, akal, kejiwaan, sosial, dan seks. Tanggung jawab inilah yang disebut bentuk pengasuhan. Tujuan dari pengasuhan itu sendiri adalah untuk membentuk anak-anak menjadi manusia yang sehat, cerdas, berkarakter mulia, berakhlak serta mampu menjadi generasi kuat bukan generasi yang lemah dan memiliki masa depan yang cerah. Semua orang tua dimuka bumi pasti memimpikan itu semua. Agar semua itu terwujud maka orang tua harus mengetahui dan menerapkan pola asuh yang benar sesuai dengan tahapan perkembangan yang dibutuhkan anak.
Dewasa ini, di era milenial, kesalahan pola asuh anak menjadi faktor utama penyebab tumbuhnya generasi bobrok, generasi lemah dan menjadi pribadi yang mudah menyerah. Kesalahan pola asuh anak di era milenial ini diantaranya seperti, memberi banyak pilihan, banyak memuji, berusaha membuat anak gembira, terlalu dimanjakan, membuat anak sibuk, kepintaran dianggap paling penting, menyembunyikan topik sensitif seperti seks, terlalu sering mengkritik, membebaskan anak nonton tv atau main gadget, terlalu melindungi anak dan sebagainya.
Dalam artikel ini, saya akan mengambil beberapa contoh pola asuh anak yang terdapat dalam Naskah Drama “Seksa” Karya Dhipa Galuh Purba dan nantinya saya akan mengambil sisi baik ataupun hikmah yang terkandung dalam kisah tersebut.
Naskah drama ini menceritakan tentang dua keluarga dengan latar belakang kehidupan yang sangat berbeda. Keluarga pertama masuk kedalam kategori keluarga dengan kondisi perekonomian yang kurang mampu, sedangkan keluarga kedua masuk kedalam keluarga berada. Namun masalah yang dihadapi dua keluarga ini bisa dikatakan sama mengingat masalah yang dihadapkan dalam naskah ini yaitu tentang kesalahan pola asuh anak.
Keluarga pertama, dikepalai oleh Suhadi. Suhadi dikisahkan menjadi seorang pribadi yang hanya memikirkan diri sendiri. Suhadi memiliki empat orang istri, bisa dikatakan ia hanya mementingkan nafsu birahinya saja. Selain itu Suhadi memiliki seorang anak yang bernama Ajag. Namun, Ajag tidak diperlakukan seperti seorang anak pada umumnya. Ajag dibesarkan dengan cacian dan makian. Ajag dipaksa untuk menjadi anak yang pintar tanpa melihat bakat yang Ajag miliki. Ajag berbakat menjadi artis, namun Suhadi tak pernah sekali mendukungnya bahkan selalu menghina Ajag. Hingga suatu ketika, Ajag tidak Lulus Ujian Nasional. Suhadi yang mengetahui soal itu, sangat marah terhadap Ajag. Bukan memberi semangat dan dukungan, Suhadi hanya bisa mencaci maki anaknya sendiri, bahkan ia pun tak tahu alasan anaknya tidak lulus Ujian Nasional kenapa.
Sedangkan keluarga kedua yaitu keluarga tokoh utama dalam naskah, keluarga Seksa. Seksa dibesarkan dalam keluarga yang berada, dibesarkan di dalam keluarga yang berpendidikan tinggi dan memiliki jabatan tinggi di DPR RI. Namun, dibesarkan dalam keluarga kaya raya tidak menjamin kebahagiaan seorang anak. Ibu dan Ayahnya hanya memikirkan karir dan jabatan. Yang anak butuhkan pada umumnya hanyalah kasih sayang dan perhatian orang tua. Dalam kasus ini, orang tua tidak memantau pergaulan anaknya. Hingga pada suatu ketika, adik dari Seksa harus mengidap penyakit AIDS. Dalam masalah ini, pengetahuan akan seks sangatlah penting, namun ketika pada suatu waktu sang adik ingin berdiskusi tentang seks, Seksa tidak meladeni nya. Penyesalan datang di akhir, sangat disayangkan sang adik harus meninggal dunia. Mengetahui hal itu, Seksa tidak bisa menerima kenyataan. Seksa menjadi sangat terobsesi ke dalam dunia sexology. Ia membaca habis semua buku tentang seks. Namun, karna masih menyesali akan kematian adiknya, ia mencoba bunuh diri dengan melompat dari atas rumahnya. Namun naas, percobaan itu tidak berhasil namun mengakibatkan pergeseran pada otaknya. Karena hal tersebut, Seksa menjadi memiliki dua kepribadian. Dikala siang menjadi a dikala malam menjadi b.
Dalam naskah drama seksa ini peran orang tua sangat dibutuhkan sekali, karena pada zaman ini sangatlah banyak pergaulan bebas.

Contoh kalimat percakapan dalam naskah Seksa yang menunjukan kesalahan pola asuh anak sebagai berikut :

1.      Suhadi : “belegug mah belegug we, henteu kudu loba alesan sagala. Matak teu lulus oge akibat kebluk ngapalkeun.”
Artinya : “bodoh mah bodoh saja, tidak usah banyak alasan segala. Makanya tidak lulus karena males belajar”

2.      Suhadi : “dasar budak belegug! Lamun teu cape mah maneh teh disiksa ayeuna keneh!”
Artinya : “dasar anak bodoh! Kalau tidak capek mah kau sudah disiksa sekarang juga!”

3.      Suhadi : “jadi bakat maneh naon? Ooh.. enya, kakara inget.. maneh masih keneh sok milu latihan ekting? Hayang jadi bentang sinetron maneh the? Ngaca siah! Eweuh kabecus maneh mah hirup teh. Kalah legeg di heulakeun!”
Artinya : “Jadi bakat kau apa? Oh, iya baru ingat, kau masih suka latihan acting? Mau jadi bintang sinetron? Ngaca sana! Gak ada keahlian hidup kau. Malah banyak gaya didahulukan!”

4.      Suhadi : “teu sudi aing kudu ngalalajoanan maneh! Cumah asup tivi oge, ari angger teu kabeli keur nyatu-nyatu can mah. Tuh jeblug maneh kasi ujay, gera bayar! Piraku aya aartis nganjuk keneh barang hakan ?”
Artinya : “tidak sudi saya harus nontonin kau! Percuma masuk tv juga kalau tidak kebeli untuk makan sedikitpun. Tuh makanan kau ke si Ujay cepat bayar! Masa ada artis masih ngehutang bahan makan?!”

5.      Suhadi : “nubaleg siah ? menang maling timana duitna?”
Artinya : “yang benar kau? Dapat maling darimana uangnya?”

Dalam contoh dialog diatas, sebagian besar menunjukan bahwa orang tua tidak sama sekali mendukung bakat dari anaknya sendiri. Sebagian besar, orang tua hanya bisa memarahi anaknya, hanya bisa menyalahkan anaknya, bukan mendukung dan mensupport bakat yang anaknya miliki.

Dimensi pola asuh 
Menurut Baumrind (dalam Damon & Lerner, 2006)  pola asuh terbagi menjadi 2 dimensi, yaitu: 
1.      Parental responsiveness  
Orang tua bersikap hangat dan memberikan kasih sayang kepada anak. Orang tua dan anak terlibat secara emosi dan menghabiskan waktu bersama dengan anak.  

     Parental demanding 
Orangtua memberikan kontrol terhadap anak mereka. Orang tua menggunakan hukuman untuk dengan tujuan untuk mengontrol anak mereka. Orang tua bersikap menuntut dan memaksa anak dan orang tua akan memberikan aturan kepada anak ketika anak tidak memenuhi tuntutan dari orang tua.  

Aspek-aspek Pola Asuh

Menurut Baumrind (dalam Damon & Lerner, 2006)  pola asuh terbagi beberapa aspek, yaitu: 
a.       Warmth 
Orang tua menunjukkan kasih sayang kepada anak, adanya keterlibatan emosi antara orang tua dan anak  serta menyediakan waktu bersama anak. Orang tua membantu anak untuk mengidentifikasi dan membedakan situasi ketika memberikan atau mengajarkan perilaku yang tepat

b.      Control 
Orang tua menerapkan cara berdisiplin kepada anak, memberikan beberapa tuntutan atau aturan serta mengontrol aktifitas anak, menyediakan beberapa standar yang dijalankan atau dilakukan secara konsisten, berkomunikasi satu arah dan percaya bahwa perilaku anak dipengaruhi oleh kedisiplinan.  

c.       Communication 
Orang tua menjelaskan kepada anak mengenai standar atau aturan serta pemberian  reward  atau  punish  yang  dilakukan kepada anak. Orang tua juga mendorong anak untuk bertanya jika anak tidak memahami atau setuju dengan standar atau aturan tersebut  

Perbandingan pola asuh anak dalam naskah “Seksa” dengan pola asuh anak menurut agama Islam. Pola asuh anak dalam Islam antara lain :

1.      Umur anak-anak 0-6 tahun.
Pada tahap ini, Rasulullah saw menyuruh kita untuk memanjakan, mengasihi dan menyayangi anak dengan kasih sayang tanpa terbatas.
2.      Umur anak-anak 7-14 tahun.
Pada tahap ini orang tua harus menanamkan nilai disiplin dan tanggung jawab kepada anak-anak.
3.      Umur anak-anak 15- 21 tahun.
Pada tahap remaja yang penuh sikap memberontak. Pada tahap ini, orangtua sebaiknya mendekati anak-anak dengan berteman tau berkawan dengan anak-anak. Sering berkomunikasi
4.      Umur anak 21 tahun dan ke atas.
     Tahap ini adalah masa orang tua untuk memberikan sepenuh kepercayaan kepada anak-anak dengan memberi kebebasan dalam membuat keputusan mereka sendiri.
Dalam naskah ini, bisa disimpulkan dengan garis besar bahwa komunikasi yang baik itu penting. Karena dengan adanya komunikasi yang baik, anak merasa di perhatikan, sehingga masalah yang anak miliki pun dapat terselesaikan. Amarah bukan jalan yang terbaik. Amarah hanya bisa memperburuk keadaan. Orang tua tidak bisa memaksakan keinginannya, karena orang tua hanya dititipkan oleh Tuhan untuk menjaga dan merawat anaknya dengan baik hingga dewasa nanti.

Daftar Pustaka :


Wisata Alam Murah Dekat dengan Ibu Kota


Hilangkan sejenak hirup pikuk ibu kota, dan  marilah kita nikmati keindahan alam yang ada di Kota Bogor.

Assalamu'Alaikum..

Apa kabar teman-teman? Semoga selalu dalam lindungan Allah SWT ya. Aamiin..

Kembali lagi Bersama saya, dalam Postingan saya yang ke empat ini, inn sha Allah setiap tanggal 10, 20, & 30 saya akan memberikan informasi apapun yang dirasa bermanfaat bagi kita semua.

Jadi kali ini saya akan memberikan informasi mengenai salah satu destinasi wisata alam yang saya rekomendasikan bagi teman-teman yang ingin menikmati pemandangan alam nan memanjakan mata tanpa harus merogoh kocek dalam-dalam.

Pertanyaannya dimana? Dan jawabannya di Puncak, Cisarua Bogor.

Ya, seperti yang telah kita ketahui, Puncak terkenal akan pemandangan alam yang begitu indah, selain tidak terlalu jauh dari Ibu kota, dan jarak tempuh yang tidak terlalu lama, Puncak merupakan destinasi wisata alam yang cukup dibilang lengkap dan tak kalah bagus dengan tempat-tempat wisata alam lainnya.

Namun, disini saya tidak akan membahas semua tempat wisata yang ada di Puncak, karena tentunya jika saya membahas semuanya bukan blog Namanya, tapi novel karena saking banyaknya. Hehe

Yang saya bahas kali ini hanya terfokus kepada satu tempat yang menurut saya dan atas dasar pengalaman saya, tempat tersebut bisa menjadi satu spot photography, mencuci mata, asik-asikan bareng keluarga, teman-teman, atau hanya sekedar untuk melampiaskan rasa galau setelah diputusin si dia, hehe tapi tidak bisa dibilang benar juga jika teman-teman ke tempat tersebut sendirian, karena kebanyakan orang yang datang tersebut pasti tidak sendirian. Hehe

Tempat itu bernama Telaga Warna. Beralamatkan di Jalan Raya Puncak – Cianjur, Tugu Utara, Cisarua, Bogor, Jawa Barat 16750. Telaga Warna merupakan sebuah objek wisata alam yang berada di dekat perkebunan the PTP VII Gunung Mas. Tempat tersebut berbentuk danau yang dikelilingi oleh pepohonan lebat di sekitar Telaga. Tempat tersebut biasa dipakai sebagai tempat prewedd bagi para pengantin baru, karena spot nya sangat bagus untuk fotografi. Selain tempat prewedd, Telaga Warna bisa sebagai tempat kumpul keluarga, kawan, dan pasangan muda-mudi.


Selain di suguhi pemandangan telaga yang cukup indah, pengunjung juga dapat berinteraksi langsung dengan kera-kera yang ada disekitar Telaga. 



Sebelum masuk ke Telaga Warna, kita disuguhi pemandangan bukit-bukit dari atas perkebunan teh yang ada di sekitaran Telaga Warna. Untuk teman-teman yang ingin memegang kabut, ataupun merasakan berada di antara kabut, bisa datang ketika pagi dan sore hari. Bagi teman-teman yang lupa membawa makanan atau malas membawa makanan, jangan khawatir, disekitaran kebun teh terdapat warung-warung yang menyediakan makanan, kopi, susu, minuman, dan juga mie instan. 



Persiapkan peralatan yang sekira nya perlu untuk menunjang liburan teman-teman, dan yang terpenting ialah uang. Karena jika tidak membawa uang, jangan harap bisa masuk. hehe

Untuk harga masuk Telaga Warna per tanggal 1 September 2017 di kenakan tarif :
Rp. 21.000/orang     : Weekday
Rp. 25.000/orang     : Weekend
Rp. 2000/motor
Rp. 5000/mobil
Telaga Warna dibuka setiap hari dari pukul 08.00 wib – 17.00 wib

Untuk masuk ke perkebunan teh Telaga Warna dikenakan tarif :
Rp. 5000/orang       : weekday
Rp. 10.000/orang     : weekend
Rp. 5000/motor
Rp. 10.000/mobil

Untuk transport menuju lokasi bisa menggunakan roda dua, roda empat, maupun transportasi umum, untuk transportasi umum sendiri bisa menggunakan bus, ataupun kereta dari arah Jakarta.

Jika menggunakan kereta, turun di Stasiun Bogor, kemudian naik angkot jurusan Sukasari kemudian transit angkot menuju arah Cisarua, turun di depan Restoran Rindu Alam, jika tidak mau ribet bisa menggunakan Grab Car.

Tapi untuk kendaraan yang saya pilih ketika pergi ke Telaga Warna ialah menggunakan kendaraan roda dua, selain cepat, anti macet, kendaraan roda dua juga sangat efektif ketika ingin pergi ke tempat lain jika ingin berpindah dari tempat satu ke tempat lain.

Untuk durasi perjalanan menggunakan roda dua, berkisar antara 2 jam hingga 2 setengah jam. Untuk rute jalan yang saya tempuh melewati jalan raya bogor, depok, cibinong kemudian bogor kota. Diharapkan tidak sendiri, karena jarak cukup membuat duduk menjadi tidak nyaman.

Mungkin sekian informasi dari saya mengenai Telaga Warna, semoga bermanfaat. ;) Aamiin

Wassalamu'Alaikum ..

CERITA ANAK BERBAHASA BELANDA DAN TERJEMAHANNYA

Assalamaualaikum.
Halo teman teman, saya hadir kembali untuk dapat menyapa temen-temen dan tentunya memberikan informasi yang diharapkan bermanfaat bagi teman-teman semuanya. Namun kali ini ada yang berbeda, jika 2 postingan saya kemarin sebagian besar membahas mengenai diri saya dan pengalaman saya pribadi, kali ini saya akan mencoba memberikan contoh cerita anak berbahasa Belanda disertai dengan terjemahannya.
Tulisan ini dibuat sebagai tugas perkuliahan saya dalam mata kuliah Bahasa Belanda, Prodi Sastra Sunda, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran dan diharapkan Postingan saya kali ini dapat bermanfaat bagi teman-teman yang sedang mencari cerita anak atau suatu teks berbahasa Belanda. Berikut teksnya :

De aap en de krokodil -
Heel lang geleden werd de Bodhisattva wedergeboren op een plek in de Himalaya als het jong van een aap. Hij werd zo sterk als een olifant, met een flink karakter, groot van lijf en leden en knap om te zien. Hij richtte zich een bestaan in op een plek in het bos, in een bocht van de Ganges.
In dezelfde tijd huisde er in de Ganges een krokodil. En het geschiedde dat het wijfje van de krokodil, toen zij het lijf van de Bodhisattva zag, een ziekelijk verlangen ging koesteren naar diens hartevlees. Daarom zei ze tegen de krokodil: "Mijn heer en meester, ik wens het hartevlees van die koning der apen te eten."
"Liefje, wij huizen in het water, deze aap op het vasteland. Hoe zullen we hem te pakken krijgen?"
"Pak hem hoe dan ook. Als ik zijn hart niet krijg, zal ik sterven."
"Vooruit dan maar, wees niet bang, ik weet wel een list, ik zal je zijn hartevlees als maaltijd brengen." Zo stelde hij het krokodillenwijfje gerust.
Op het uur waarop de Bodhisattva het water van de Ganges dronk en vervolgens op de oever bleef zitten, zocht de krokodil hem op en sprak hem aldus aan: "Koning der apen, waarom wandel je maar gewoontegetrouw op deze plek, waar je zure vruchten eet? Aan de overzijde van de Ganges is er geen einde aan de zoete vruchten van manga- en broodbomen. Waarom ga je daar niet heen en grijp je de kans niet aan om velerlei vruchten te eten?"
"Krokodillenkoning, de Ganges is diep en breed. Hoe wil je dan dat ik daar kom?"
"Als je hier komt, zal ik je op m'n rug laten klimmen en je erheen brengen."

De Bodhisattva geloofde de krokodil en stemde erin toe. "Komaan dan," zei de krokodil. "Klim op mijn rug." En zo gebeurde. Maar toen de krokodil een eindje met hem gezwommen had, liet hij hem in het water onderduiken.

De Bodhisattva riep: "M'n beste, je laat me kopje onder gaan, wat is dat nu?" De krokodil bekende: "Ik ben je niet komen halen met eerlijke bedoelingen. Mijn vrouw heeft een ziekelijk verlangen naar je hartevlees, daarom wil ik haar je hart te eten geven."

"Vriend, het is goed dat je het mij vertelt. Want als ons hart in onze borst zat, zou het breken als we ons langs de toppen der boomtakken voort reppen."

"Waar laten jullie je hart dan?"

De Bodhisattva wees hem een vijgenboom die niet te ver weg stond en beladen was met trossen rijpe vruchten. "Kijk," zei hij, "onze harten hangen aan die vijgenboom."

"Als je mij je hart geeft, zal ik je niet doden."

"Hop dan, breng me erheen, ik zal je m'n hart geven dat aan de boom hangt."


Alzo deed de krokodil. De Bodhisattva nam een sprong van zijn rug en zat in de vijgenboom. "M'n beste, domme krokodil," zei hij, "je dacht dat je de harten van de apen in de boomtop zag hangen, je bent een domoor, ik heb je voor de mal gehouden. Laat er voor jou maar een ruime keuze van vruchten zijn! Je lijf is groot, maar klein is je wijsheid." En ter toelichting zei hij de volgende verzen:

"Genoeg! Beter dan die manga's, rode appels en broodvruchten
Aan de overzijde, is deze vijgenboom voor mij.
Groot waarlijk is je romp, niet in overeenstemming daarmee je wijsheid.
Krokodil, ik heb je beetgenomen. Zoek nu je heil maar elders."

De krokodil, zo ongelukkig als iemand die duizend munten heeft verloren, terneergeslagen en verteerd door berouw, droop af naar de plaats waar hij woonde.

TERJEMAHAN
Monyet dan buaya -

Dulu, Bodhisattva dilahirkan kembali di sebuah tempat di Himalaya sebagai seekor monyet. Ia menjadi sekuat gajah, dengan karakter yang kuat, tubuh yang besar dan menarik untuk dilihat.

Ia mendirikan sebuah eksistensi di suatu tempat di hutan, tepatnya di sebuah tikungan di Sungai Gangga.
Pada saat yang sama, terlihat dua ekor buaya di Sungai Gangga. Buaya tersebut bejenis kelamin jantan dan betina. Ketika buaya tersebut melihat tubuh Bodhisattva, buaya tersebut memiliki hasrat begitu dalam untuk memakan jantung Bodhisattva. Kemudian ia berkata "Tuanku, aku ingin memakan jantung raja monyet itu.” Serunya.

Sayang, kita ada di air, monyet itu di daratan, bagaimana kita akan menangkapnya?"
"Tangkap dia, jika aku tidak mendapatkan hatinya, aku akan mati."
"Silakan, jangan takut, aku tahu tipuan, aku akan membawakanmu daging jantungnya sebagai makanan.
" Begitulah cara dia meyakinkan buaya betina.
 
Pada saat Bodhisattva meminum air Sungai Gangga dan kemudian duduk di tepi sungai, buaya
 melihatnya dan memanggilnya demikian: "Raja monyet, mengapa Anda hanya berjalan di tempat ini
 di mana Anda akan memakan buah asam? "Di sisi lain Sungai Gangga, tidak ada akhir untuk buah 
manis dari pohon mangga dan roti, mengapa kamu tidak pergi ke sana dan tidak mengambil kesempatan 
untuk makan berbagai buah?"
"Raja buaya, Sungai Gangga dalam dan lebar, bagaimana Anda ingin saya datang ke sana?"
"Jika kamu datang ke sini, aku akan membiarkanmu naik ke punggungku dan membawamu ke sana."
 
Bodhisattva percaya dan menyetujuinya. "Kalau begitu, datanglah," kata buaya itu. 
"Panjat di punggungku." Dan begitulah yang terjadi. Tapi ketika buaya berenang sedikit, 
dia membiarkannya menyelam ke air.
 
Bodhisattva berseru: "Sayangku, kau membiarkanku tenggelam, apa itu sekarang?" Buaya itu mengaku:
 "Saya tidak datang untuk membawamu dengan niat jujur. Istri saya memiliki hasrat yang mendalam 
 untuk jantungmu, itulah sebabnya saya ingin memberi dia jantungmu untuk dimakan."
 
"Kawan, baiklah saya beritahu, bahwa jantungku ada didalam dadaku, dan hancur jika aku terus menyusuri 
puncak-puncak cabang pohon."
 
"Di mana kamu meninggalkan jantungmu?"
 
Bodhisattva menunjuk kepadanya pohon ara yang tidak terlalu jauh dan penuh dengan buah yang matang. 
"Dengar," katanya, "jantungku tergantung di pohon ara itu."
 
"Jika kamu memberiku jantungmu, aku tidak akan membunuhmu."
 
"Kalau begitu, bawa aku ke sana, aku akan memberimu jantungku yang tergantung di pohon."
Begitu juga buaya. Bodhisattva mengambil lompatan dari punggungnya dan duduk di pohon ara. 
"Buaya sayangku, bodoh," katanya, "kau pikir kau melihat jantung para kera di puncak pohon, kau bodoh,  
aku telah membuat kau berada di depan cetakan buah, tubuhmu luar biasa, tapi kebijaksanaanmu kecil. " 
Dan untuk penjelasannya dia mengatakan kata-kata berikut:
 
"Cukup! Lebih baik kau makan apel merah dan sukun daripada mangga itu, 
Di sisi lain, pohon ara ini untukku.
Lambungmu tidak sesuai dengan kebijaksanaanmu.
Buaya, aku membawamu. Sekarang carilah keselamatanmu di tempat lain. "
 
Buaya tidak bahagia seperti seseorang yang kehilangan seribu koin, sedih dan termakan oleh pertobatan, 
melayang ke tempat di mana dia tinggal.
 
Sumber Data :
 

KESALAHAN POLA ASUH ANAK YANG TERKANDUNG DIDALAM NASKAH DRAMA “SEKSA” KARYA DHIPA GALUH PURBA

Anak adalah anugerah terindah yang Tuhan titipkan kepada semua orang tua di muka bumi ini. Membesarkan anak menjadi pribadi yang berbudi...